
Pertanyaan sederhana namun rumit yang pernah diajukan teman saya. Lebih baik mencintai atau dicintai? Dia bilang, orang sepertinya gampang untuk mencintai, tapi dia jarang mau dicintai.
Masa sih?
Contohnya ibu teman saya itu. Seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat keluarganya. Saat dia sakit, dia menyembunyikan penyakitnya dan berusaha tegar. Dia tidak ingin merepotkan keluarganya.
Sebuah pengorbanan ataukah karena orang takut dicintai?
Saya bilang cinta itu bukan me- atau di- tapi ber-. Semuanya berpartisipasi, baik memberi dan menerima. Seperti sebuah pesta, ada yang menyumbang anggur, makanan, kursi, hiburan dan lain-lain.
Mungkin pelajaran hidup manusia yang utama adalah mempelajari cara berpartisipasi dalam cinta.

Orang bilang si A sukses, atau si B pekerjaannya baik. Orang bilang si C suaminya ganteng dan baik, dan si D religius dan rajin datang ke gereja. Orang bilang seperti itu lalu diam-diam menginginkan kehidupan mereka.
Andaikan orang bisa melihat kehidupan orang lain, seperti Tuhan melihat kehidupan orang-orang tersebut. Dua puluh empat jam tiap hari dan tidak ada yang bisa ditutupi, semua terbuka apa adanya. Mungkin orang lihat bahwa si A cemas karena suksesnya karena menyuap, atau si B yang benci dengan pekerjaannya. Orang lihat si C ternyata suaminya tukang selingkuh dan si D adalah teman selingkuh suami si C.
Apakah sekarang orang menginginkan hidup si A, si B, si C dan si D sekarang?
Rumput tetangga mungkin lebih hijau, tetapi siapa yang tahu apa yang dikubur di bawah rerumputan itu.
Diarsipkan di bawah: struggle

Saya bermimpi jadi pemain bola. Jadi striker handal, dan dipilih buat jadi pencetak gol terhebat dalam sejarah klub Manchester United. Di tim nasional Indonesia, saya berhasil mengangkat Piala Dunia 2010.
Tapi saya tidak jadi pemain bola. Saya jadi pegawai kantoran. Itulah yang saya jalani sekarang. Kerja dari jam 8 sampai jam 5, menerima gaji setiap bulan. Setiap akhir minggu saya menonton orang yang memang jalannya jadi pemain bola, menendang bola ke gawang dan dielu-elukan suporter.
Saya sadar bahwa menjadi pemain bola bukan yang Dia kehendaki. Dia menghendaki saya jadi apa yang saya lakukan sekarang. Saya menyenangi apa yang saya lakukan sekarang dan tidak menginginkan pekerjaan lainnya.
Banyak orang yang tidak ingin menempuh jalan yang dipilihkan olehNya. Mereka punya rencana bahwa mereka ingin menempuh sebuah jalan yang diinginkan mereka. Kadang, mereka memilih jalan yang dipilihkan oleh masyarakat, nilai, dan norma.
Siapa yang memilih jalan sebagai seniman daripada jadi manajer? Siapa yang memilih jadi pastor daripada jadi direktur? Padahal Dia yang tahu segalanya bilang, “Inilah jalan hidup yang telah Kupilihkan untukmu.”
Pasrah akan apa yang jadi pilihanNya, mungkin itulah pelajaran hidup manusia.